Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan dan ditutup melemah 20 poin ke level Rp 16.925 pada perdagangan Jumat (6/3). Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian global yang makin memburuk akibat konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah serta evaluasi negatif dari lembaga pemeringkat internasional terhadap outlook peringkat utang Indonesia.
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah memasuki hari ketujuh tanpa tanda-tanda mereda menyebabkan pasar global semakin waspada. Serangan rudal dan aksi balasan yang terus terjadi di berbagai wilayah meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas geopolitik dan pasokan energi dunia.
Menurut Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, ketegangan geopolitik ini membuat pelaku pasar global cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman. Konflik ini juga berdampak pada kenaikan harga minyak dunia karena potensi gangguan pada infrastruktur energi serta jalur pelayaran di kawasan Teluk.
Lonjakan harga minyak menimbulkan kekhawatiran akan munculnya gelombang inflasi global baru, yang mempersulit prospek kebijakan bank sentral di seluruh dunia. Termasuk The Fed, yang harus berhati-hati dalam mengambil keputusan pemangkasan suku bunga karena tekanan inflasi yang tinggi. Ibrahim juga menyatakan bahwa jika data tenaga kerja AS lebih kuat dari perkiraan, peluang penundaan pemangkasan suku bunga oleh The Fed semakin besar. Hal ini biasanya akan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.








