Pemerintah Indonesia saat ini menghadapi tekanan besar terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat lonjakan harga minyak dunia yang kini mencapai sekitar US$80 per barel, melebihi asumsi awal sebesar US$70 per barel. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa jika harga minyak terus meningkat hingga mencapai US$92 per barel, pemerintah akan mempertimbangkan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi sebagai upaya terakhir untuk menjaga stabilitas fiskal negara. Dalam simulasi yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan, terlihat bahwa defisit APBN diperkirakan bisa mencapai 3,6–3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tanpa adanya penyesuaian kebijakan, melebihi batas maksimal 3 persen yang ditetapkan oleh ketentuan fiskal.
Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai skenario kebijakan untuk mengantisipasi tekanan tersebut tanpa langsung menaikkan harga BBM subsidi. Selain itu, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM bukanlah satu-satunya opsi yang sedang dipertimbangkan. Sejumlah langkah strategis lainnya tengah disiapkan, seperti pengelolaan subsidi energi yang lebih efisien, penyesuaian belanja negara, dan kebijakan fiskal lainnya untuk menjaga keseimbangan APBN.








