Mengenal Quiet Luxury: Gaya Mewah Tanpa Banyak Pamer

Quiet luxury menawarkan cara menampilkan kemewahan tanpa mengandalkan logo besar atau busana yang mencolok. Gaya ini bertumpu pada kualitas bahan, ketepatan potongan, warna yang tenang, serta detail pengerjaan yang baru terlihat ketika diperhatikan lebih dekat.

Istilah yang juga kerap dikaitkan dengan stealth wealth itu semakin dikenal dalam beberapa tahun terakhir. Popularitasnya ikut terdorong oleh serial “Succession”, gaya berpakaian sejumlah selebritas, dan tren di media sosial. Vogue menggambarkan quiet luxury sebagai pendekatan fesyen yang menekankan kualitas dan desain, bukan identitas merek yang dipamerkan secara terang-terangan.

Busana sederhana dengan perhatian pada detail

Dalam praktiknya, quiet luxury dapat diwujudkan melalui blazer berpotongan rapi, celana berstruktur, kemeja polos, sweater berkualitas, rok panjang, coat, atau tas dengan desain bersih. Pakaian tersebut tidak harus menampilkan simbol merek. Justru, konstruksi, bahan, jahitan, dan kesesuaiannya dengan tubuh menjadi bagian penting dari kesan mewah yang dihasilkan.

Palet warnanya umumnya terdiri atas putih, krem, cokelat, abu-abu, hitam, dan biru tua. Warna-warna netral itu mudah dipadukan dan memberikan tampilan elegan tanpa kesan berlebihan. Siluet klasik juga menjadi pilihan karena dapat digunakan dalam berbagai kesempatan serta tidak terlalu bergantung pada tren musiman.

Material seperti kasmir, wol, linen, katun berkualitas, dan kulit dengan pengerjaan baik sering diasosiasikan dengan estetika ini. Namun, kesan mahal tidak semata-mata ditentukan oleh harga. Pakaian dengan ukuran yang pas, bahan yang tampak terawat, dan warna yang harmonis dapat terlihat lebih elegan dibandingkan busana mahal yang tidak sesuai dengan pemakainya.

British Vogue sebelumnya mencatat adanya pergeseran perhatian konsumen kelas atas dari logo menuju kualitas ketika quiet luxury semakin populer. Karena itu, dua pakaian dengan model yang hampir sama bisa memberikan kesan berbeda apabila material dan proses pengerjaannya tidak setara.

Tidak wajib memakai barang desainer

Quiet luxury juga tidak berarti seseorang harus membeli produk dari rumah mode mewah. Vogue mencatat, tampilan stealth wealth dapat diterapkan pada berbagai tingkat harga. Kemeja polos, celana bahan, dan sepatu sederhana sudah cukup menjadi dasar, selama keseluruhan penampilan rapi, ukurannya sesuai, dan warna yang dipilih saling mendukung.

Untuk memulainya, seseorang tidak perlu mengganti seluruh isi lemari. Beberapa pakaian dasar seperti kemeja putih, blazer, sweater polos, celana bahan, atau rok berpotongan klasik dapat dipadukan secara bergantian. Aksesori pun tidak perlu berlebihan. Jam tangan sederhana, tas berd desain bersih, dan sepatu klasik dapat melengkapi penampilan.

Quiet luxury menghadapi perubahan tren

Meski sempat dominan, quiet luxury bukan satu-satunya arah fesyen pada 2026. Vogue mencatat, tren musim panas tahun ini mulai bergerak menuju busana dengan warna, grafis, dan karakter personal yang lebih kuat. Gaya minimalis tetap memiliki tempat, tetapi konsumen juga semakin leluasa memadukan elemen klasik dengan item yang lebih ekspresif.

Ketertarikan terhadap quiet luxury tetap berkaitan dengan cara konsumen menilai produk fesyen. Dalam laporan 2026, McKinsey menyebut konsumen semakin mempertimbangkan nilai, sementara pertumbuhan pasar barang mewah diperkirakan lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya. Bain & Company memperkirakan pengeluaran untuk barang mewah pribadi pada 2026 tumbuh sekitar 2 hingga 4 persen dalam skenario dasarnya.

Dalam situasi tersebut, kualitas, daya tahan, dan nilai sebuah produk menjadi pertimbangan penting. Itulah sebabnya quiet luxury tetap relevan, bukan semata karena tampilannya, melainkan karena prinsip berpakaian rapi, memilih dengan cermat, dan menggunakan barang yang dapat bertahan lebih lama.

Source link