Kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dihadapkan pada tekanan yang semakin berat. Beban utang dan potensi lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang membuat ruang fiskal pemerintah semakin terbatas. Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan, mengungkapkan bahwa struktur fiskal Indonesia saat ini mengkhawatirkan. Meskipun defisit APBN 2026 masih di bawah batas 3 persen dari PDB, tekanan terhadap struktur fiskal semakin terasa.
Salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari pembayaran bunga utang pemerintah yang terus meningkat. Kewajiban pembayaran bunga utang diperkirakan mencapai Rp600 triliun, setara dengan sekitar 19 persen dari total pendapatan negara atau sekitar 22 persen dari penerimaan perpajakan. Rasio tersebut dianggap cukup tinggi dan secara struktural menyempitkan ruang fiskal pemerintah.
Target pendapatan negara dalam APBN 2026 dinilai terlalu optimistis, dengan total pendapatan yang ditargetkan sebesar Rp3.153 triliun. Keseluruhan kondisi fiskal Indonesia tahun 2026 memprihatinkan dan memperlihatkan perlunya langkah-langkah strategis untuk memperbaiki struktur fiskal dan mengatasi tekanan fiskal yang semakin meningkat.












