Aksi protes yang mengguncang Amerika Serikat terus berlanjut, dengan jutaan warga yang turun ke jalan dalam gelombang ketiga aksi “No Kings” pada Sabtu, 28 Maret lalu. Demonstrasi ini menyoroti dua isu sensitif yang sedang memanas di AS, yaitu kebijakan imigrasi yang ketat dan konflik dengan Iran. Dilaporkan bahwa lebih dari 3.100 aksi digelar di berbagai kota besar seperti Washington D.C., New York, dan Los Angeles, melibatkan sekitar 900.000 orang. Ini menjadikan aksi protes tersebut sebagai unjuk rasa sehari terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah AS.
Demonstrasi tersebut mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk tokoh penting seperti Senator Bernie Sanders yang menyerang keras kebijakan perang Amerika Serikat. Sanders mempertanyakan kejujuran pemerintah AS terkait perang Vietnam, Irak, dan kini perang dengan Iran. Sementara itu, Gubernur Minnesota, Tim Walz, menuntut keadilan bagi dua korban tewas dalam insiden yang terkait dengan ICE.
Aksi protes ini juga menarik perhatian publik karena melibatkan aktor serta tokoh-tokoh ternama yang turut ambil bagian dalam aksi demonstrasi. Demonstrasi tersebut menjadi sorotan media dan menjadi bukti bahwa ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah masih sangat besar di kalangan masyarakat AS. Perjuangan untuk menyuarakan pendapat terus berlanjut, mendukung semangat demokrasi dan kebebasan berbicara di negara tersebut.








