Kontroversi muncul setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengutarakan ide tentang kolaborasi antara nilai keagamaan di pesantren dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). Herwin Sudikta, seorang pegiat media sosial, mengkritik gagasan tersebut, menganggapnya tidak memiliki dasar logis dan hanya terdengar seperti jargon futuristik. Herwin mempertanyakan bagaimana kedua sistem yang dianggapnya berada di kutub berbeda bisa dipertemukan. Ia menekankan perbedaan mendasar antara agama yang berbasis kepercayaan dan kepatuhan dengan teknologi, terutama AI, yang dibangun berdasarkan logika dan verifikasi data. Menurutnya, AI tidak berdasarkan prinsip kepercayaan, melainkan data dan logika. Herwin juga menyoroti pernyataan Gibran mengenai transformasi besar yang bisa dihasilkan dari kolaborasi pesantren dan AI, menegaskan perlunya penjelasan yang lebih tajam terkait arah transformasi yang dimaksud. Dalam pandangannya, kolaborasi antara pesantren dan AI ini mungkin lebih untuk menciptakan kesan futuristik daripada memberikan manfaat nyata yang konkret.
Kritik Herwin Sudikta terhadap Pernikahan Agama dan Teknologi
Read Also
Recommendation for You

Arif Wicaksono, seorang pegiat politik, ekonomi, dan sosial, secara terbuka mengevaluasi kualitas kepemimpinan Menteri Kehutanan,…

Pemerintah Indonesia Memilih Menangani Banjir dan Longsor di Sumatera Tanpa Bantuan Asing Pemerintah Indonesia telah…

M. Rizal Fadillah, seorang pemerhati politik dan kebangsaan, telah menyampaikan pandangannya mengenai kontroversi seputar ijazah…

Aktivis Virdian Aurellio menyampaikan kekecewaannya terhadap negara yang dianggap tidak serius dalam mengatasi kerusakan alam…

Guru besar dan sosiolog hukum Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Ciek Julyati Hisyam, menyatakan keyakinannya…





