Peristiwa keracunan massal yang menimpa siswa-siswi sekolah usai menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) masih menjadi perhatian utama bagi orang tua, siswa, dan sekolah. Peneliti ISEAS Yusof-Ishak Institute, Made Supriatma, menyoroti kembali kejadian tersebut melalui akun media sosialnya. Dia menunjukkan keprihatinan atas adanya laporan-laporan keracunan makanan di sekolah akibat konsumsi MBG yang semakin meningkat.
Berbagai pihak telah menyerukan peninjauan kembali program ini. Bahkan ada yang menyarankan program ini dihentikan sementara atau malah secara permanen, dengan harapan menemukan solusi alternatif untuk memberikan makanan sehat kepada anak-anak Indonesia. Namun, pemerintah mempertahankan pendiriannya bahwa MBG adalah program yang baik dan kasus keracunan sangatlah minim. Meskipun banyak angka dibelakang nol koma untuk menunjukkan tingkat kecilnya kejadian keracunan, namun jika dilihat dari segi keselamatan anak-anak, hal ini tetaplah menjadi masalah serius.
Dalam konteks politik, isu sabotase pun mulai muncul. Beberapa politisi menuduh adanya upaya sengaja untuk membuat program ini gagal. Persoalan ini semakin membingungkan bagi banyak pihak yang melihat situasi ini. Pertanyaan pun muncul, mengapa aparat keamanan Indonesia begitu cepat bertindak untuk menangkap orang-orang yang dicurigai menyabotase program ini, namun melihat respon yang lebih lambat ketika program MBG ini dihadapkan pada masalah serius seperti kasus keracunan massal.












