Polemik pagu harga Rp6.500 per porsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menimbulkan dampak yang cukup signifikan, di antaranya adalah penutupan salah satu dapur MBG di Panakkukang 02 Makassar oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Keputusan ini tidak hanya berdampak pada hilangnya pekerjaan bagi sejumlah pekerja harian, tetapi juga membuat ratusan siswa penerima manfaat harus membawa bekal sendiri ke sekolah. Mitra Badan Gizi Nasional (BGN), Arifin Gassing, menyoroti bahwa batasan belanja Rp6.500 per anak tidak sesuai dengan arahan Presiden yang seharusnya lebih besar.
Keputusan ini langsung dirasakan oleh para pekerja dapur, seperti Nurul Istiqomah dan Herlina yang kehilangan penghasilan secara mendadak. Begitu pula dengan juru masak lainnya yang merasa kecewa karena banyak pekerja yang bergantung pada kegiatan MBG untuk mencari nafkah. Selain itu, sektor pendidikan juga terganggu dengan distribusi MBG di sekolah yang harus dihentikan mengikuti imbauan resmi dari SPPG. Pihak sekolah akhirnya meminta siswa untuk membawa bekal sendiri dari rumah sementara waktu.
Meskipun demikian, Kepala UPT SPF SD Negeri Tamamaung 1, Basora, menjelaskan bahwa informasi penghentian sudah disampaikan kepada orang tua agar tidak menimbulkan kebingungan. Meskipun ada tantangan yang dihadapi, ia tetap berharap agar ke depannya penanganan masalah ini bisa lebih terarah untuk meminimalisir dampaknya bagi semua pihak yang terlibat.
