Penulis yang juga dikenal sebagai akuntan, Tere Liye, melontarkan kritik keras kepada Wakil Menteri Haji (Wamenhaj) terkait masa tunggu keberangkatan haji yang disebut kini mencapai 14 tahun.
Kritik tersebut menyoroti klaim bombastis yang disampaikan pejabat mengenai persoalan masa tunggu haji. Tere Liye meminta agar pernyataan kepada publik tidak dibangun dengan klaim yang menurutnya dapat menyesatkan masyarakat.
Kritik terhadap klaim masa tunggu haji
Dalam pernyataannya, Tere Liye secara langsung menyampaikan teguran kepada Wamenhaj. Ia menggunakan kalimat, “Berhentilah menipu dengan klaim bombastis,” untuk menekankan keberatannya terhadap cara isu masa tunggu haji disampaikan.
Pernyataan itu berkaitan dengan masa tunggu haji yang disebut telah mencapai 14 tahun. Angka tersebut menjadi pokok persoalan dalam kritik Tere Liye karena menyangkut kepastian masyarakat yang telah menanti keberangkatan ke Tanah Suci.
Ia menilai klaim yang berlebihan tidak semestinya digunakan ketika menjelaskan persoalan tersebut. Bagi Tere Liye, penyampaian informasi mengenai masa tunggu haji perlu dilakukan secara jelas dan tidak menggunakan pernyataan yang dapat membentuk pemahaman berbeda di tengah masyarakat.
Pesan Tere Liye kepada pejabat
Teguran Tere Liye diarahkan kepada pejabat yang berkaitan dengan urusan haji. Ia tidak sekadar menyoroti angka masa tunggu, tetapi juga cara pejabat menyampaikan klaim mengenai isu tersebut kepada publik.
Dengan menyebut masa tunggu haji kini mencapai 14 tahun, kritik itu menempatkan persoalan waktu keberangkatan sebagai hal utama. Masyarakat yang menunggu giliran haji membutuhkan informasi yang dapat dipahami secara terang, terutama ketika muncul klaim yang dianggap bombastis.
Ucapan “berhentilah menipu dengan klaim bombastis” menjadi inti sikap Tere Liye dalam menanggapi pernyataan tersebut. Kalimat itu menunjukkan penolakannya terhadap klaim yang menurutnya tidak semestinya dipakai untuk menjelaskan kondisi masa tunggu haji.
Tere Liye dikenal sebagai penulis kondang yang juga berprofesi sebagai akuntan. Kritiknya kali ini diarahkan pada Wamenhaj dalam konteks pembahasan masa tunggu haji yang disebut mencapai 14 tahun.
Persoalan yang disorot dalam pernyataan tersebut bukan hanya durasi penantian, melainkan juga klaim yang menyertainya. Tere Liye meminta pejabat menghentikan penggunaan klaim bombastis ketika menyampaikan informasi mengenai masa tunggu keberangkatan haji kepada masyarakat.


