Chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) tidak hanya bergantung pada perangkat lunak. Setiap permintaan diproses oleh server berdaya komputasi tinggi di pusat data, yang membutuhkan listrik sekaligus sistem pendingin. Dalam rangkaian infrastruktur inilah air dapat digunakan.
Namun, anggapan bahwa setiap pertanyaan kepada chatbot otomatis menghabiskan air dalam jumlah besar tidak bisa diberlakukan secara seragam. Besarnya penggunaan air dipengaruhi oleh model AI, kompleksitas tugas, efisiensi perangkat keras, sistem pendingin, lokasi pusat data, serta sumber listrik yang dipakai.
Air digunakan untuk pendinginan dan pembangkitan listrik
Server yang memproses layanan AI menghasilkan panas ketika bekerja. Agar tetap beroperasi pada suhu yang sesuai, pusat data membutuhkan sistem pendingin. Sebagian fasilitas menggunakan air untuk menyerap dan membuang panas tersebut.
Kebutuhan air tidak sama di setiap pusat data. Teknologi pendingin, kondisi iklim, desain fasilitas, dan kebijakan pengelolaan air menjadi sejumlah faktor yang memengaruhinya. Pusat data dengan beban komputasi lebih besar juga menghadapi tantangan lebih tinggi dalam mengelola panas dan kebutuhan pendinginan.
Penggunaan air tidak hanya terjadi secara langsung di pusat data. Air juga dapat digunakan dalam proses pembangkitan listrik yang memasok energi ke fasilitas tersebut.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2025 memperkirakan konsumsi air seluruh pusat data global mencapai sekitar 560 miliar liter pada 2023. Sekitar 373 miliar liter di antaranya berkaitan dengan penggunaan air secara tidak langsung untuk pembangkitan listrik, sedangkan sekitar 140 miliar liter merupakan penggunaan langsung di pusat data. Angka itu merupakan estimasi untuk seluruh pusat data, bukan konsumsi khusus chatbot tertentu.
Konsumsi per permintaan tidak seragam
Perbedaan angka konsumsi air AI juga dipengaruhi metode penghitungan. Sebagian perhitungan hanya memperhitungkan proses komputasi, sementara metode lain memasukkan kebutuhan sistem pendingin dan air yang digunakan untuk menghasilkan listrik.
Google, misalnya, pada 2025 mengukur konsumsi sumber daya layanan Gemini. Berdasarkan data Mei 2025 dan metodologi yang mencakup penggunaan energi sistem serta konsumsi air pusat data, perusahaan itu memperkirakan satu prompt teks median pada Gemini Apps menggunakan sekitar 0,26 mililiter air.
Google menegaskan bahwa angka tersebut merupakan pengukuran pada titik waktu tertentu dan tidak dapat dianggap sebagai angka yang berlaku untuk seluruh layanan AI. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan setiap pertanyaan pada chatbot selalu mengonsumsi air dalam jumlah yang sama.
Pertumbuhan penggunaan dan upaya efisiensi
Efisiensi per permintaan tidak serta-merta menghilangkan tekanan terhadap sumber daya. International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik pusat data global meningkat 17 persen pada 2025. Pada periode yang sama, konsumsi listrik pusat data yang berfokus pada AI meningkat sekitar 50 persen.
IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data secara keseluruhan dapat naik dari sekitar 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030. Artinya, dampak lingkungan AI juga dipengaruhi pertumbuhan jumlah pengguna, jenis pekerjaan yang diproses, dan pembangunan infrastruktur pusat data.
Sejumlah perusahaan teknologi mengembangkan sistem untuk menekan kebutuhan air. Microsoft melaporkan rata-rata water usage effectiveness (WUE) pusat datanya turun dari 2,3 liter per kilowatt-jam menjadi 0,27 liter per kilowatt-jam pada 2025. Menurut perusahaan, penurunan itu didukung teknologi pendinginan dan peningkatan operasional.
Dalam laporan lingkungan 2026, Google menyebut proyek pengelolaan airnya pada 2025 telah mengisi kembali sekitar 7,7 miliar galon air, setara sekitar 78 persen dari konsumsi air tawarnya pada tahun tersebut.
Chatbot AI tetap memiliki jejak penggunaan air karena bergantung pada pusat data, listrik, dan sistem pendingin. Namun, ukurannya tidak dapat disamaratakan untuk setiap chatbot maupun setiap pertanyaan. Penilaiannya perlu memperhatikan data, cakupan, dan metode pengukuran yang digunakan.












