Tragedi yang menimpa seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, belum lama ini telah mengungkapkan masalah yang lebih dalam terkait ketimpangan akses pendidikan dan perlindungan anak. Pemuda Peduli Pendidikan dan Demokrasi (Palpasi) mengungkapkan keprihatinan atas kejadian tragis yang menimpa siswa berusia 10 tahun itu, yang diyakini dipicu oleh tekanan ekonomi keluarga terkait biaya sekolah.
Menurut Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga Palpasi, Lintang Ayu Taufiqoh, kasus ini tidak bisa diatasi hanya dengan santunan atau bantuan materi semata. Peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan sistemik yang telah lama terjadi dan belum ditangani secara menyeluruh. Ketika seorang anak harus menghadapi tekanan karena kebutuhan dasar pendidikan tidak terpenuhi, itu bukan hanya soal kemiskinan, melainkan juga menunjukkan kelemahan dalam perlindungan anak dan akses pendidikan.
Palpasi menekankan pentingnya pendidikan karakter dan kesehatan mental anak, yang sering kali dilupakan. Tragedi ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk meninjau ulang kebijakan pendidikan, khususnya terkait alokasi anggaran dan implementasi di daerah-daerah rentan. Negara dan masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi tanpa beban kegagalan sistem.












