Masyarakat di Sibolga, Sumatera Utara, terdampak banjir terlihat kehilangan kesabaran setelah bencana melanda. Mereka terpaksa melakukan aksi penjarahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kejadian ini menjadi viral di media sosial, di mana gudang Bulog dan minimarket menjadi sasaran utama. Warga, yang diduga kelaparan, memaksa membuka toko dan melakukan penjarahan.
Dari video yang beredar, terlihat warga membanjiri gudang tersebut dan membawa beras serta minyak goreng keluar dengan paksa. Menanggapi hal ini, Pengamat Pertanian dan Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Khudori, menyatakan bahwa penjarahan itu kemungkinan dipicu oleh keterlambatan logistik bantuan akibat wilayah terisolasi akibat bencana banjir dan longsor.
Khudori menilai bahwa bencana alam ini seharusnya membuka mata otoritas yang berwenang untuk lebih siap menghadapi situasi darurat dengan baik. Meskipun Indonesia dikenal sebagai “negeri bencana,” tapi kenyataannya situasi lapangan kali ini ditangani dengan kesulitan. Menurut Khudori, otoritas harus belajar dari kejadian ini untuk meningkatkan kesiapan dalam menghadapi bencana darurat di masa mendatang.










