Black Friday, yang jatuh pada Jumat setelah Thanksgiving di bulan November, merupakan salah satu hari belanja tersibuk di Amerika Serikat (AS). Dipenuhi dengan aktivitas belanja, dimana orang-orang berburu diskon besar dan penawaran khusus di toko-toko dan pusat perbelanjaan. Selain menjadi awal dari musim liburan Natal di AS, fenomena Black Friday juga sudah menyebar ke berbagai negara termasuk e-commerce.
Sejarah Black Friday dimulai dari peristiwa kepanikan finansial pada tahun 1869 yang disebabkan oleh dua investor, Jay Gould dan Jim Fisk, yang mencoba mengendalikan pasar emas. Istilah “Black Friday” sendiri mulai digunakan pada abad ke-19, awalnya untuk menggambarkan peristiwa negatif seperti buruh yang tidak masuk kerja setelah Thanksgiving.
Penggunaan istilah “Black Friday” secara spesifik merujuk pada kebiasaan belanja masyarakat AS setelah Thanksgiving pada tahun 1950-an. Polisi di Philadelphia yang menghadapi kerumunan besar orang yang datang berbelanja setelah Thanksgiving, menyebutnya sebagai “Black Friday”. Meskipun para peritel awalnya tidak senang dengan istilah ini, namun kemudian mereka menerima dan memberikan pemaknaan positif terhadap istilah tersebut sebagai simbol keuntungan bisnis pada hari tersebut.
Sejak saat itu, Black Friday semakin populer setiap tahunnya dan menjadi simbol aktivitas belanja pada Jumat keempat bulan November. Dengan berbagai penawaran menarik, Black Friday tidak hanya menggugah para konsumen di AS tetapi juga di negara-negara lain di seluruh dunia.












