Tips mudah atasi ‘ngorok’ untuk tidur lebih pulas dan sehat

Mendengkur atau lebih dikenal sebagai “snoring” sering dianggap sebagai gangguan tidur biasa. Namun, suara napas keras saat tidur sebenarnya bisa menjadi tanda dari kondisi yang lebih serius, seperti Obstructive Sleep Apnea (OSA), yang dapat berdampak pada kualitas tidur dan kesehatan jangka panjang. Ketika seseorang tidur, otot-otot di area tenggorokan menjadi rileks, yang kadang membuat saluran napas bagian atas menyempit atau terhenti sementara, hal ini dapat menyebabkan getaran pada jaringan di sekitar tenggorokan dan muncul suara mendengkur.

Mendengkur bisa menjadi gejala kesehatan biasa, namun dalam kasus OSA, saluran napas tidak hanya menyempit tetapi juga terhenti untuk sementara, sehingga oksigen darah turun dan tubuh terbangun untuk bernapas kembali. Gejala kondisi ini sering kali mencakup mendengkur keras, rasa kantuk atau ketidaksegaran saat bangun tidur. Oleh karena itu, mengendalikan suara dengkuran tidak hanya untuk kenyamanan namun juga untuk menjaga kualitas tidur dan menekan risiko komplikasi kesehatan.

Beberapa pemicu mendengkur atau OSA antara lain berbaring tidur dalam posisi punggung, berat badan berlebih, konsumsi alkohol atau obat penenang sebelum tidur, kelainan anatomi, dan kurang tidur. Untuk mencegah risiko dari tidur mendengkur, dianjurkan untuk mengubah posisi tidur ke samping, menurunkan berat badan, menghindari alkohol dan obat penenang sebelum tidur, mengatasi sumbatan hidung, rutin melakukan aktivitas fisik, angkat posisi kepala saat tidur, serta menggunakan strip hidung jika diperlukan.

Jika setelah melakukan perubahan gaya hidup tersebut masih sering mengalami mendengkur keras atau gejala lain seperti berhenti napas saat tidur, kantuk berat pada siang hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Atasi kebiasaan mendengkur saat tidur bukan hanya untuk tidur lebih pulas namun juga untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Source link